Sabtu, 13 Oktober 2012

Laporan Praktek Nutrisi Ikan


I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
        Indonesia merupakan negara kepulauan dengan berbagai potensi sumberdaya alam yang melimpah dan belum terkelola dengan baik. Salah satu yang dapat dilakukan untuk memanfaatkan sumberdaya alam tersebut adalah dengan usaha budidaya (aquakultur). Usaha budidaya akhir-akhir ini menjadi sesuatu yang banyak diminati oleh masyarakat, karena memiliki potensi yang cukup besar. Untuk mewujudkan adanya usaha budidaya dengan produksi yang tinggi tentunya tergantung pada beberapa faktor, diantaranya faktor makanan.
       Di dalam budidaya ikan, formula pakan ikan harus mencukupi kebutuhan gizi ikan yang dibudidayakan, seperti: protein (asam amino esensial), lemak (asam lemak esensial), energi (karbohidrat), vitamin dan mineral. Mutu pakan akan tergantung pada tingkatan dari bahan gizi yang dibutuhkan oleh ikan. Akan tetapi, perihal gizi pada pakan bermutu sukar untuk digambarkan dikarenakan banyaknya interaksi yang terjadi antara berbagai bahan gizi selama dan setelah penyerapan di dalam pencernaan ikan.
      Pakan bermutu umumnya tersusun dari bahan baku pakan yang bermutu yang dapat berasal dari berbagai sumber dan sering kali digunakan karena sudah tidak lagi dikonsumsi oleh manusia. Pemilihan bahan baku tersebut tergantung pada: kandungan bahan gizinya; kecernaannya dan daya serap ikan; tidak mengandung anti nutrisi dan zat racun; tersedia dalam jumlah banyak dan harga relatif murah. Umumnya bahan baku berasal dari material tumbuhan dan hewan. Ada juga beberapa yang berasal dari produk samping atau limbah industri pertanian atau peternakan. Bahan-bahan tersebut dapat berupa kacang ijo, dedak halus, tepung terigu, tepung ikan, tepung jagung, bungkil kacang tanah, dll. Di dalam budidaya ikan, formula pakan ikan harus mencukupi kebutuhan gizi ikan yang dibudidayakan, seperti: protein (asam amino esensial), lemak (asam lemak esensial), energi (karbohidrat), vitamin dan mineral. Mutu pakan akan tergantung pada tingkatan dari bahan gizi yang dibutuhkan oleh ikan. Akan tetapi, perihal gizi pada pakan bermutu sukar untuk digambarkan dikarenakan banyaknya interaksi yang terjadi antara berbagai bahan gizi selama dan setelah penyerapan didalam pencernaan ikan.
1.2  Tujuan dan Kegunaan
        Tujuan dari kegiatan praktikum Nutrisi Ikan adalah untuk mengetahui kandungan gizi pakan yang akan diberikan pada ikan budidaya dan bagaimana cara pembuatan pakan tambahannya. Kegunaannya adalah dapat menambah pengetahuan dan wawasan bagi mahasiswa tentang cara pembuatan pakan tambahan.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1  Deskripsi Pakan
       Menurut Mudjiman (2001), Makanan buatan merupakan makanan yang dibuat dengan bentuk khusus sesuai keinginan dan diramu dari berbagai macam bahan. Lebih lanjut ditambahkan bahwa ada beberapa keuntungan dari pemberian pakan buatan yakni Pembudidaya dapat meningkatkan produksi melalui padat penebaran tinggi dengan waktu pemeliharaan yang pendek, pembudidaya dapat memanfaatkan limbah industri pertanian yang tidak terpakai untuk dijadikan pakan.
     Untuk menunjang kelangsungan hidupnya dan juga untuk mempercepat pertumbuhannya, ikan membutuhkan nutrisi yakni zat-zat gizi yang terdapat dalam pakan yang diberikan.  Setiap jenis ikan memiliki kebutuhan nutrisi baik jumlah maupun komposisi yang berbeda-beda menurut spesies, ukuran, jenis kelamin, kondisi tubuh dan kondisi lingkungan.  Zat-zat gizi tersebut dapat digolongkan menjadi dua kelompok yakni zat gizi yang menghasilkan energi dan zat gizi yang tidak mengasikan energi (Afrianto, 2005).
        Kecepatan pertumbuhan ikan tergantung pada beberapa faktor dintaranya yakni jumlah makanan yang diberikan, ruang, suhu, dalamnya air dan faktor-faktor lainnya.  Makanan yang dimanfaatkan ikan sebagian besar digunakan oleh ikan untk memelihara tubuh dan menggantikan sel yang rusak.  Setelah itu baru digunakan untuk pertumbuhan ikan.  Suatu makanan ikan, minimal mengandung protein, karbohidrat dan lemak. Pemberian makanan tambahan dapat meningkatkan produksi ikan yang dipelihara sampai tiga kali lipat disbanding dengan ikan yang hnaya memanfaatkan makanan alami (Asmawi, 1983).
       Menurut Djarijah (1998), pakan tambahan yang baik untuk ikan adalah pakan yang mengandung kadar protein 20-40 %.  Selain dilihat dari kadar proteinnya, kulaitas dari pakan tambahan untuk ikan juga ditentukan oleh kehalusan dari bahanya.  Semakin halus bahan baku pellet maka daya apung dari pelet tersebut akan semakin tinggi sehingga waktu yang dibutuhkan ikan untuk memakannya juga semakin panjang.                 
2.2 Bahan Baku Hewani (Tepung Ikan)
       Tepung ikan yang sudah memenuhi syarat dapat disimpan untuk persediaan selama dibutuhkan. Kadar air dalam tepung ikan sangat menentukan lama tidaknya tepung ikan tersebut dapat disimpan. Kelembaban gudang penyimpanan dan ventilasi gudang mempengaruhi lama dan kualitas bahan (Suriatna,1990).
Menurut Djangkaru (1974), tepung ikan merupakan bahan makanan pokok ikan yang digunakan sebagai sumber protein hewan dan mineral, terutama kalsium dan fosfor. Bahan makanan tersebut mengandung protein yang memiliki kualitas jauh lebih baik karena mengandung asam amino yang diperlukan untuk ikan, terutama methionin dan lisin.
       Tepung ikan yang baik berasal dari jenis ikan yang kadar lemaknya rendah. Bau khusus suatu jenis ikan kadang juga mempengaruhi daya tariknya, sehingga lebih merangsang. Untuk meningkatkan bau yang merangsang, ikannya dapat kita fermentasikan lebih dahulu menjadi bekasem. Ikan-ikan rucah (tidak bernilai ekonomis tinggi) dan sisa-sisa hasil pengolahan biasanya merupakan bahan baku yang penting untuk pembuatan tepung ikan. Secara umum tepung ikan mengandung protein sebanyak 22,65% (Mudjiman, 2001).
2.3 Bahan Baku Nabati
2.3.1 Tepung Kacang Hijau
        Tepung kacang hijau merupakan bahan yang penting untuk menyusun ramuan makanan ikan, karena nilai biologisnya cukup tinggi. Hal ini disebabkan karena biji kacang hijau mengandung asam amino yang paling esensial diantara asam-asam amino lainnya. Oleh karena itu, dalam menyusun ramuan makanan ikan sebaiknya jangan melupakan tepung kacang ijo. Jumlahnya sebaiknya tidak kurang dari 10 persen. Makanan yang dicampur tepung kacang ijo aromanya juga menjadi lebih sedap (Mudjiman, 2001).
2.3.2  Dedak Halus
        Makanan tambahan, umumnya berbentuk tepung yang agak kasar.  Dedak halus (bekatul) cocok untuk makanan tambahan.  Dedak, selain dapat diberikan secara langsung, juga digunakan sebagai bahan campuran membuat pakan bagi ikan.  Kandungan gizi dedak halus (bekatul) yang terbanyak adalah karbohidrat yaitu 28,26% (Kasno, 1990).
       Dedak halus (bekatul) menurut Djarijah (1998), sebaiknya dipilih yang masih segar dan tidak tercampur dengan potongan sekam. Bekatul harus kering dan tidak kasar. Bila bekatul digenggam, akan terasa lembut (halus) dan gumpalannya mudah pecah. Kondisi seperti ini berarti bekatul cukup baik untuk digunakan sebagai bahan baku pembuatan pakan ikan. Tingkat kesegaran bekatul diketahui dengan mencium baunya. Bekatul segar berbau beras dan tidak berbau apek atau amoniak yang menyengat.
2.3.3 Tepung Terigu
      Menurut Mudjiman (2004), bahwa tepung terigu berasal dari hasil olahan biji gandum. Disamping kegunaannya sebagai sumber energi dalam pakan ikan, tepung terigu juga berguna sebagai bahan perekat sehingga pakan yang dihasilkan mempunyai tekstur yang baik dan tahan lama di dalam air.
      Tepung terigu merupakan bahan baku yang umum digunakan dalam proses pembuatan pakan ikan. Selain mempunyai kandungan nutrisi yang tinggi, juga berfungsi sebagai perekat. Tepung terigu mempunyai kandungan protein 8,9 %, lemak 1,3 %, karbohidrat 77,3 % dan air 12 % (Djajasewaka, 1985).
2.3.4  Tepung Jagung
      Kita mengenal dua macam jagung, yaitu jagung kuning dan jagung putih. Jagung kuning mengandung protein yang tinggi, dengan daya lekat yang kurang. Warnanya agak kekuning-kuningan, kuning muda, atau kecoklat-coklatan. Jagung putih berwarna putih agak keabu-abuan. Kandungan protein dan energinya rendah, dengan daya lekat yang tinggi. Sebagai bahan makanan ikan, jagung termasuk sukar dicerna. Bahkan mereka dapat menghambat pertumbuhan, walaupun kesehatan ikan tidak terganggu. (Sumeru, 1980).
       Menurut Suriatna (1990), bahwa jagung yang digunakan dalam penyusunan komposisi makanan ikan harus dalam bentuk jagung giling yang halus agar nantinya memudahkan pencampuran sehingga dapat diaduk merata. Penggunaan jagung sebagai bahan makanan ikan berkisar antara 10 % - 30 %, apabila penggunaannya  terlalu banyak dapat menyebabkan kandungan protein pakan ikan rendah dan kandungan karbohidrat tinggi. Hal ini dapat menyebabkan zat-zat makanan yang terkandung di dalam makanan tidak seimbang terutama untuk protein dan energinya.
2.4  Bahan Tambahan (vitamin)
       Afrianto (2005), Vitamin merupakan senyawa organik yang penting bagi pertumbuhan, reproduksi dan kesehatan ikan serta sebagai pemacu metabolisme dalam tubuh ikan.  secara umum vitamin dibagi menjadi dua kelompok, yaitu vitamin yang larut dalam lemak dan vitamin yang larut dalam air.  Golongan vitamin yang larut dalam lemak yakni vitamin A, D, E, dan K sedangkan vitamin yang larut dalam air yakni vitamin B dan C.  Penggunaan  vitamin  dalam pakan  buatan  menggunakan  premix (vitamin mix).  Premix atau vitamin mix di formulasi untuk mengganti vitamin yang tidak tersedia secara lengkap atau hilang selama proses pembuatam pakan.
2.5 Alat Pembuat Pakan
      Mesin pencetak pellet ada dua macam; pencetak pellet basah dan mesin pencetak pellet kering. Biasanya mesin pencetak basah tidak bisa untuk mencetak pellet kering akan tetapi mesin pencetak pellet kering bisa mencetak pellet basah.
        Desain pencetak pellet basah umumnya lebih murah dan mesin ini banyak di buat dalam negeri oleh bengkel-benkel industri kecil tapi, ada juga diantara mereka yang memproduksi mesin pencetak pellet kering dan harganya dua sampai tiga kali lipat, karena pembuatanya lebih mahal. 

III. METODE PRAKTEK
3.1 Waktu dan Tempat
      Praktikum mata kuliah Nutrisi Ikan dilaksanakan pada hari Kamis, tanggal 8 Desember 2011 dimulai pada pukul 10.00 WITA sampai dengan selesai. Bertempat di Laboraturium Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Tadulako, Palu.
3.2 Alat dan Bahan
        Alat yang digunakan pada praktikum Nutrisi Ikan adalah sebagai berikut:
1.        Loyang plastik,
2.        Baki,
3.        Timbangan, dan
4.        Gilingan daging.
     Bahan yang digunakan adalah:
1.        Tepung ikan                     = 204,54 gr
2.        Dedak halus                     = 118,38 gr
3.        Tepung terigu                   = 115,25 gr
4.        Tepung kacang hijau        = 316,07 gr
5.        Tepung jagung                 = 225,76 gr
6.        Air secukupnya.
3.3 Prosedur Kerja
        Prosedur kerja yang digunakan pada praktikum Nutrisi Ikan  adalah sebagai berikut :
1.    Menghitung komposisi bahan pakan yang akan digunakan.
2.    Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
3.    Menimbang semua bahan yang sudah sesuai dengan takaran yang telah diperoleh dari hasil perhitungan, kemudian memasukkannya kedalam ember.
4.   Mencampur semua bahan dan mengaduknya hingga rata, kemudian menambahkan air sedikit demi sedikit hingga bahan tersebut menjadi seperti adonan kue.
5.    Menggiling adonan

IV.  HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1  Hasil
        Berdasarkan hasil kegiatan praktikum Nutrisi Ikan yang dilakukan, maka diperoleh hasil sebagai berikut  :
 Tabel 1. Komposisi Presentase Bahan Protein
No.
Bahan
Persentase
1.
2.
3.
4.
5.
Tepung Ikan
Tepung Kacang ijo
Tepung Terigu
Dedak Halus
Tepung Jagung
22,65 %
35,00 %
11,05 %
11,35 %
25,00 %
Kandungan :
Protein = 35 %
Vitamin mix = 2% = 20 gr
∑ pakan = 1 kg = 1.000 gr
                          = 1.000 gr – 20 gr
                        = 980 gr



4.2  Pembahasan
     Formula pakan ikan didasarkan pada kandungan protein, lemak dan serat. Formula ikan dapat dibagi menjadi dua bagian sesuai dengan kebutun ikan,  pakan ikan untuk anak ikan atau benih akan membutuhkan 50% protein, 8% lemak,. Sedangkan untuk ikan dewasa membutuhkan protein antara 25-30% protein,  lemak 7%. Hal penting yang harus di perhatikan dalam membuat  formula pakan ikan adalah ketersediaan bahan-bahan untuk membuat pellet ikan tersebut harus ada secara terus menerus. Jangan menggunakan bahan  yang ketersediannya terbatas atau musiman. Formula ikan yang berubah-ubah akan dapat menurunkan selera makan ikan dalam waktu sementara yang akan berakibat pada pertumbuhan ikan yang lambat
        Pemberian nutrisi bagi organisme budidaya dimaksudkan agar makanan yang diberikan pada organisme peliharaan tersebut dapat tumbuh dengan optimal dan dapat memberikan hasil yang baik dan memuaskan. Pemberian makanan tersebut harus diperhatikan dengan makanan yang memenuhi syarat gizi yaitu protein, vitamin dan mineral.  Akan tetapi karena faktor keterbatasan dalam praktek ini kami hanya melakukan penambahan vitamin sebanyak 2% atau sekitar 20 gr dari dari total bahan yang digunakan yaitu 1 kg. Pemberian nutrisi pada organisme budidaya melalui makanan, harus diberikan sesuai dengan umur dan ukuran ikan serta jenis ikan.
      Ketersediaan pakan dan nutrisi sangat berpengaruh besar terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan. Jumlah nutrisi yang dibutuhkan oleh ikan setiap harinya berhubungan erat dengan ukuran berat dan umurnya. Faktor lain yang menentukan tambahan nutrisi harian adalah perbedaan lingkungan, terutama suhu air. Perubahan suhu air akan berpengaruh secara langsung terhadap nafsu makan ikan.
        Ikan, pada umumnya seperti mahluk bertulang belakang lainnya yang juga memerlukan berbagai jenis gizi untuk memenuhi kebutuhan energi yang diperlukan untuk dapat hidup dan berkembang. Berbagai kandungan gizi pada pakan ikan memiliki fungsi tersendiri, yaitu untuk menjaga ikan agar tetap hidup dan tumbuh. Protein, Lipid, dan Karbohidrat sangat diperlukan untuk menyediakan energi. Disamping itu protein pada khususnya diperlukan untuk pertumbuhan. Oleh karena itu, komposisi pakan ikan memegang peranan yang sangat penting. Sebagai contoh, protein yang diberikan pada ikan harus dapat menyediakan semua asam amino esensial yang diperlukan, lipid juga harus mengandung jenis asam lemak yang tepat. Berbagai jenis hara lainnya juga diperlukan tetapi jumlah keperluannya sangat sedikit.
     Dalam hal pembuatan makanan ikan, pertama-tama kita perlu memperhatikan tentang pemilihan bahannya. Bahan-bahan tersebut harus memenuhi beberapa syarat, yaitu mempunyai nilai gizi yang tinggi, mudah diperoleh, mudah diolah, tidak mengandung racun, harganya relatif murah dan yang terpenting bukan merupakan makanan pokok manusia sehingga nantinya tidak menimbulkan saingan.
      Untuk mengetahui nilai gizinya, seharusnya kita harus melakukan pemeriksaan kimia di laboratorium. Akan tetapi dalam praktek ini hal tersebut tidak dilakukan, melainkan hanya berdasarkan daftar komposisi yang sudah merupakan hasil penelitian para ahli.
        Seluruh komponen bahan pakan ikan sebaiknya dibuat dari bahan baku yang masih baru. Untuk dedak halus (bekatul) dipilih yang masih segar dan tidak tercampur dengan potongan sekam. Tepung ikan sebaiknya dipilih yang berkualitas baik. Sedangkan untuk tepung jagung yang baik adalah yang berwarna putih atau kuning sesuai dengan warna butiran jagung.
       Pekerjaan meramu bahan pakan ikan adalah menyusun jumlah setiap komponen dan menimbang beratnya dengan menggunakan metode kuadrat sehingga didapatkan hasil yang benar. Atas dasar kandungan proteinnya, bahan pakan ikan dibedakan menjadi dua macam, yaitu bahan protein basal berasal dari bahan nabati yang kandungan proteinnya di bawah 20 %. Yaitu : dedak halus sebanyak 118,38 gr dan tepung terigu sebanyak 115,,25 gr. Sedangkan bahan protein suplemental berasal dari bahan hewani dan nabati yang kandungan proteinnya di atas 20 %, yaitu : tepung ikan sebanyak 204,54 gr, tepung kacang hijau sebanyak 316,07 gr dan tepung jagung sebanyak 225,76 gr.
       Pembuatan pakan ikan menurut Djarijah (1998), tidak mutlak harus disesuaikan dengan hasil perhitungan formulasi tersebut, tetapi komponen-komponen penyusunannya tidak boleh menyimpang.
Setelah jumlah setiap bahan ditentukan, dalam praktek dilakukan penimbangan bahan-bahan tersebut dengan menggunakan timbangan kue karena jumlah bahan yang digunakan hanya sedikit. Apabila ingin membuat jumlah pakan yang banyak sebaiknya digunakan timbangan yang mempunyai kapasitas besar. Pengadukan dalam jumlah kecil cukup menggunakan tangan atau centongan nasi sampai bahan-bahan tersebut dapat tercampur homogen (merata) dan ditambahkan air panas sedikit demi sedikit sampai adonan berbentuk pasta dan lebih memudahkan pada saat penggilingan.
       Pencetakan adonan diawali dengan memasukkan campuran bahan yang telah berbentuk pasta dan tercampur secara merata kedalam alat penggiling daging  (meat mincer). Bahan baku yang telah tercetak menjadi pellet kemudian dikeringkan dengan bantuan sinar matahari atau diangin-anginkan saja. Pengeringan ini berfungsi untuk menurunkan kadar air yang terkandung di dalam pakan atau pellet sehingga menjadi minimal dan stabil. Dengan demikian pakan tersebut tidak mudah ditumbuhi oleh jamur.
V.  KESIMPULAN DAN SARAN
5.1  Kesimpulan
           Berdasarkan hasil dan pembahasan diatas, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1.    Bahan yang digunakan dalam pembuatan pellet dapat berasal dari bahan hewani (tepung ikan) dan nabati (tepung terigu, tepung jagung, tepung kacang hijau, dan dedak halus).
2.    Jumlah vitamin yang digunakan dalam pembuatan pellet yaitu 2%, atau sekitar 20 gr dari total bahan yang digunakan.
3.    Tepung terigu dan dedak halus termasuk dalam protein basal, karena jumlah masing-masing bahan yang digunakan dibawah 20% sedangkan tepung ikan, tepung jagung dan tepung kacang ijo termasuk dalam protein supplement, karena jumlah masing-masing bahan yang  digunakan diatas 20%.
5.2     Saran
        Sebaiknya dalam pembuatan adonan pellet,  penambahan air harus dilakukan sedikit demi sedikit  untuk menghindari terjadinya pengenceran adonan. Sehingga pada saat pencetakan pakan tidak mengalami masalah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar