Sabtu, 13 Oktober 2012

Laporan Kajian Lingkungan Hidup

I.                  PENDAHULAN
1.1         Latar Belakang
     Dewasa ini, bersamaan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin global, kondisi lingkungan hidup juga semakin berubah. Lingkungan hidup sebagai tempat melaksanakan segala aktifitas kehidupan, kini menunjukan perkembangan menuju ke arah yang memprihatinkan. Semakin maraknya kebutuhan manusia yang harus mutlak dipenuhi tanpa memandang dampak terhadap kondisi lingkungan hidup hayati itulah salah satu penyebab semakin kritisnya kondisi lingkungan hidup tersebut.
       Khususnya di Negara Indonesia ini, padahal Negara Indonesia adalah negara yang agraris. Sebuah kebanggaan bagi yang merasa sebagai warga negara Indonesia karena mempunyai kekayaan baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia begitu melimpah dari tanah indonesia ini. dan juga semakin dibanggakan karena kekayaan Indonesia bukan hanya dapat digunakan sebagai mata pencaharian atau sumber kehidupan dan penghasilan, namun juga menjadi tempat tinggal yang nyaman dan aman secara ekologis. Akan tetapi itu semua merupakan kondisi terdahulu, eksploitasi yang berlebihan, pembabatan hutan liar, budaya membuang sampah sembarangan, dan hal-hal lainnya yang berjalan tanpa memperhatikan keberlanjutan sebuah sistem yang utuh dan menyeluruh dan akhirnya merusak bahkan bisa dibilang menghancurkan alam. Secara menyeluruh, hal ini dapat menimbulkan penderitaan, penyakit, bencana, hingga akhirnya kemiskinan masyarakat
      Akibat yang kemudian muncul, bukan hanya menjadi keprihatinan bersama yang cukup untuk direnungkan saja, namun juga menyangkut mentalitas masing-masing individu atau pribadi yang menunjukkan rendahnya kesadaran akan “Peduli Lingkungan Hidup”. Untuk itu perlu digerakkan upaya pemberdayaan lingkungan hidup dan pemantapan atau perubahan mentalitas tiap individu secara mendasar. Karena perlu disadari bahwa “Semua makhluk dan ciptaanNya merupakan sebuah proses hidup yang saling berkesinambungan.
1.2  Tujuan dan Kegunaan 
       Tujuan dari praktek lapang Kajian Lingkungan Hidup adalah untuk mengetahui perubahan-perubahan yang terjadi di pesisir pantai seperti sumber-sumber pencemaran sampah, bagaimana pencemaran masuk ke perairan, dan dampak pencemaran tersebut bagi masyarakat sekitar pesisir. Kegunaan dari praktek lapang Kajian Lingkungan Hidup adalah untuk memberikan gambaran bagi mahasiswa pada khususnya dan masyarakat pada umumnya, mengenai dampak pencemaran sampah dipesisir pantai.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Lingkungan Hidup
         Lingkungan hidup adalah Kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain.
Kebutuhan masyarakat meningkat berdampak pada terwujudnya perilaku masyarakat yang eksploitatif terhadap Sumber Daya Alam (SDA) yang ada sehingga berakibat pada menurunnya tingkat maupun kualitas SDA di Indonesia secara cepat.
2.2 Pencemaran Lingkungan
      Penyebab terjadinya pencemaran lingkungan sebagian besar disebabkan oleh tangan manusia. Pencemaran air dan tanah adalah pencemaran yang terjadi di perairan seperti sungai, kali, danau, laut, air tanah, dan sebagainya. Sedangkan pencemaran tanah adalah pencemaran yang terjadi di darat baik di kota maupun di desa. Alam memiliki kemampuan untuk mengembalikan kondisi air yang telah tercemar dengan proses pemurnian atau purifikasi alami dengan jalan pemurnian tanah, pasir, bebatuan dan mikro organisme yang ada di alam sekitar kita.
Untuk menyelesaikan masalah pencemaran lingkungan ini, tentunya kita harus mengetahui sumber pencemar, bagaimana proses pencemaran itu terjadi, dan bagaimana langkah penyelesaian pencemaran lingkungan itu sendiri.
2.3 Sumber Pencemaran
a.      Pencemaran Air
        Pencemaran air adalah masuknya atau di masukannya makhluk hidup, zat, energi dan atau komponen lain ke dalam air oleh kegiatan manusia sehingga kualitas air turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air tidak berfungsi lagi sesua Pencemaran perairan akan mengurangi jumlah spesies organisme perairan yang ada pada umumnya. Salah satu indikator pencemaran diperairan adalah dengan melihat ada tidaknya zooplankton pada suatu perairan.  Zooplankton dapat dijadikan indikator pencemaran, karena organisme ini tidak mati walaupun berada dalam air yang tercemar (Satrawijaya, 2000).
        Perairan merupakan tempat pembuangan limbah akhir dari bahan pencemar baik disengaja maupun tidak disengaja yang berasal dari limbah industri, pertanian dan kegiatan/limbah rumah tangga tanpa diolah terlebih dahulu sebelum dibuang ke perairan. Limbah ini merupakan substansi kimiawi yang berpengaruh pada organisme. Selain memiliki dampak negartif yakni sumber pencemar, kadangkala limbah ini juga memiliki nilai positif diantaranya sebagai sumber penambah nutrien bagi perairan.
b.      Pencemaran Limbah Rumah Tangga
       Pencemaran organik merupakan pencemaran yang disebabkan oleh hasil buangan/limbah domestik atau limbah rumah tangga dalam jumlah yang banyak.  Selain pencemaran akibat limbah industri, limbah rumah tangga merupakan suatu masalah yang serius. Sabun dan deterjen merupakan salah satu sumber pencemar organik dari limbah domestik (Ryanto dkk, 1985). 
      Menurut Wardhana (1995), Kelimpahan mikroorganime diperairan sangat merugikan dan akan meningkat jika pada suatu perairan memiliki kandungan bahan organik yang terlalu tinggi. Kadar bahan organik yang tinggi biasanya disebabkan oleh hasil degradasi sampah atau limbah organik yang dibuang keperairan tanpa pengolahan terlebih dahulu.
III.  MATERI DAN METODE PRAKTEK
3.1  Waktu dan Tempat
        Praktek lapang Mata Kuliah Kajian Lingkungan Hidup dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 10 Desember 2011 dimulai pada pukul 08.00 WITA sampai dengan selesai. Bertempat di Kampung Nelayan, Kecamatan Palu Timur, Provinsi Sulawesi Tengah, Palu.
3.2  Alat dan Bahan
         Alat dan bahan yang digunakan pada praktek lapang Kajian Lingkungan Hidup adalah alat tulis menulis dan daftar pertanyaan atau kuesioner yang sudah di siapkan.
3.3  Prosedur Kerja
        Prosedur kerja pada kegiatan praktek lapang Kajian Lingkungan Hidup yang dilakukan adalah sebagai berikut :
1.    Melakukan pengamatan langsung terhadap kondisi perairan di lingkungan sekitar wilayah pesisir pantai.
2.    Melakukan wawancara langsung terhadap masyarakat sekitar terkait masalah pencemaran sampah dan    penanggulangannya.
3.    Mencatat hasil wawancara yang di dapat dari beberapa narasumber.
IV.  HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1  Hasil
        Berdasarkan kegiatan praktek lapang Kajian Lingkungan Hidup dengan pengamatan langsung ditempat yang berbeda, maka diperoleh hasil sebagai berikut :
1.    Kampung Nelayan
Nama                           : Daeng sila
Jumlah tanggungan        : 9 orang
Mata pencarian             : Nelayan Tetap
Penghasilan                   : Rp. 50.000,- Setiap kali turun melaut
Dampak lingkungan      : sampah-sampah di sekitar pantai biasa di bersihkan setiap hari sabtu dengan cara bergotong royong dengan warga sekitar yang dikomando langsung oleh anggota dari polsek.
2.    Pusat Penggaraman(Pugar)
Ø  Nama                          : pak Ahmad
Jumlah tanggungan          : 3 orang
Mata pencarian               : selain memiliki lahan penggaraman, juga     merupakan pensiunan pegawai.
Penghasilan                    : 3 petak dapat menghasilkan garam sebanyak 8 sak dengan harga Rp. 300.000,-
Dampak lingkungan         : sampah-sampah di sekitar pantai biasa di   bersihkan setiap   hari.
Ø Nama                          : pak Hafid
Jumlah tanggungan           : 5 orang
Mata pencaharian            : petani tambak sero
Pendapatan                     : Rp. 50.000 .-
Penghasilan                      : dalam 1 petak dapat menghasilkan 3 sak, dan 1 sak dengan harga Rp. 70.000.-
Kendala                           : cuaca dan jika hujan turun tidak ada hasil garam yang di peroleh.
Pemasaran                       : pembeli yang datang sendiri mulai dari poso, ampana, toli-toli, dan kalimantan.
Dampak lingkungan       : tidak ada limbah/sampah di sekitar tambak garam dan tempat penjualan/cafe, karena sampah-sampah tersebut langsung di buang ketempat sampah.
3.    Tepian Talise
Ø Nama                         : pak Burhan
Jumlah tanggungan          : 4 orang
Mata pencaharian            : nelayan dan terkadang kerja sampingan sebagai sopir.
Penghasilan                     : tidak menentu, tergantung hasil ikan yang di dapat.
        Nelayan pergi turun melaut ketika cuaca sangat mendukung dan tidak turun ketika cuaca kurang baik. Nelayan turun saat malam hari dan naik saat pagi hari serta kendaraan yang di gunakan ialah perahu mesin. Biasa nelayan menggunakan perahu kecil dan perahu besar untuk menangkap ikan, namun perahu yang di gunakan berdasarkan dengan jenis umpan yang ada.
Dampak lingkungan       : sampah-sampah disekitar perairan talise memberikan dampak negatif seperti mencemari di sekitar pesisir pantai. Tapi semua sampah dapat di bersihkan dengan kerja bakti bersama warga-warga di daerah tersebut.
Pemasaran                     : orang-orang datang langsung ke nelayan untuk membeli hasil tangkapan ikan yang di peroleh.
Jenis ikan                        : jenis ikan yang biasa di dapat adalah ikan katombo, ikan mubara, dan ikan merah.
Ø  Nama                          : Hadi Baharuddin dan Ny. Asnani
Jumlah tanggungan                  : 8 0rang (2 kepala keluarga)
Pekerjaan                        : Sekarang : cafe mini
                                                  Lalu        : nelayan sero
Penghasilan                     : Cafe mini : Rp. 300.000 – Rp. 500.000/bulan
                                         Tergantung jumlah pengunjung
Listrik                              : menggunakan kilometer sendiri
Bantuan                           : - berupa sembako (beras) 15 kg/3 bulan/rumah.
-  air tawar yang digunakan biasanya berasal dari sumur suntik  puskesmas talise.
Keluhan                           : tidak ada penyuluhan dari pemerintah setempat
Dampak lingkungan        : adanya sampah berserakan di sekitar cafe mini, namun amun dapat di bersihkan dengan membuang langsung ke tempat sampah.
Ø  Nama                          : pak Dadang
Umur                               : 48 tahun
Mata pencaharian            : nelayan
Jumlah keluarga               : 5 orang
Pendapatan                      : Rp. 50.000.-/hari
Alat tangkap                    : pancing dasar
Kendala                         : adanya ombak dan perubahan cuaca yang tidak mendukung, sehingga jumlah ikan yang di dapat sedikit.
Pemasaran                       : hanya di makan sendiri dan misalnya kalau ada yang beli lalu di jual.
Dampak lingkungan        : nelayan yang ada di daerah tersebut melakukan kerja bakti setiap hari sabtu dan kemudian sampah-sampah yang berserakan di buang pada tempatnya lalu di bakar.

4.2  Pembahasan
        Keadaan pesisir pantai pada daerah tersebut merupakan salah satu daerah yang tercemar oleh hasil aktifitas masyarakat setempat, sebab daerah tersebut menjadi suatu tampat pembuangan sampah masyarakat sekitarnya. Hal ini merupakan salah satu faktor yang dapat mangakibatkan terjadinya populasi organisme yang ada pada perairan tersebut, karena limbah dari hasil pembuangan sampah akan menumpuk, dan secara tidak langsung bahan kimia yang terkandung pada limbah tersebut akan menyebar pada perairan khususnya pada daerah perairan pantai talise. Apabila hal ini semakin berlanjut dan tidak ada tindakan oleh masyarakat setempat, maka salah satu dampak yang terjadi adalah para nelayan yang ada pada daerah sekitar pantai tersebut akan mengalami kehilangan pada mata pencaharian mereka.
         Berdasarkan hasil wawancara yang kami dapatkan pada masyarakat kampung Nelayan, yaitu  sebagian besar  mereka berprofesi sebagai nelayan, yang memiliki sasaran penangkapannya ikan batu, ikan julung-julung dan udang-udang kecil (benur), dengan menggunakan alat tangkap milik mereka sendiri yaitu pukat dasar, perahu dan jala romping. Para nelayan ini memiliki lokasi penangkapan hanya disekitar teluk palu, waktu penangkapan yang mereka lakukan tergantung dari musim, biasanya dari pukul 18.00 sampai 06.00 WITA. Pada umumnya kendala yang menghalangi mereka untuk melakukan penangkapan yaitu adanya angin dan gelombang, akibatnya mereka tidak melakukan penangkapan dan sebagian dari mereka tidak memiliki pekerjaan sampingan, sehingga hal ini sangat mempengaruhi kebutuhan ekonomi mereka.
      Pada pengamatan yang dilakukan di daerah kampung nelayan yaitu mengenai pencemaran yang di akibatkan limbah rumah tangga banyak hal yang ditemukan. Terlihat bahwa diperairan tersebut terdapat beberapa sampah rumah tangga baik itu sampah organik maupun anorganik. Selain itu, mengamati adanya sampah rumah tangga seperti plastik, sisa-sisa potongan kayu dan kotoran hewan yang menyebabkan pencemaran. Setelah diamati sampah tersebut ternyata berasal dari hasil buangan langsung oleh masyarakat sekitar.
         Hasil  praktek lapang Kajian Lingkungan Hidup yang dilakukan  di sekitar wilayah pesisir pantai tentang pencemaran sampah dapat berdampak buruk bagi masyarakat sekitar. Hal ini di karenakan pengolahan sampah di daerah tersebut masih sulit dilakukan, sebab belum adanya sosialisasi dari pemerintah dan dinas terkait. Selain itu, masyarakat di sekitar wilayah pesisir yang salah satunya di daerah
        Hasil wawancara yang di lakukan pada praktek lapang dari beberapa narasumber yang berada di daerah tepian talise menyatakan bahwa pencemaran sampah sebagian timbul dari limbah rumah tangga serta belum ada penyuluhan dari pemerintah setempat. Sehingga pada akhirnya masyarakat turun langsung membersihkan sampah dengan bergotong royong, lalu sampah tersebut di buang pada tempatnya. Hal ini berdasarkan pernyataan Ryanto dkk (1985), bahwa pencemaran organik merupakan pencemaran yang disebabkan dari hasil limbah domestik atau limbah rumah tangga dalam jumlah yang banyak.
       Daerah pantai dan laut merupakan tujuan utama dari pencemaran yang terjadi di darat.  Limbah penyebab pencemaran tersebut secara langsung dan tidak langsung mencemari lautan dan pesisir pantai.  Sampah dan limbah yang dibuang ke sungai hanyut hingga ke pantai yang menyebabkanpantai menjadi kotor yang berdampak negatif kalau hanya pada manusia tetapi semua organisme yang ada    di pesisir banyak dicemari oleh limba rumah tangga.  Di sepanjang pantai banyak ditemukan planstik, kaleng dan bahan anorganik yang tidak dapat terurai.  Limbah dan sampah ini tidak hanya merusak pemandangan tapi juga mengandung zat unsur-unsur kimia yang berbahaya bagi manusia dan organisme perairan.  Banyak masyarakat yang mengalami dampak negative dari masalah sampah ini namun banyak pula yang acuh tak acuh dan cuek dengan masalah ini.  Pemerintah setempat sudah mengambil tindakan untuk mengurangi pencemaran di pantai antara lain “sabtu bersih”.  Namun semuanya tidak memberikan hasil yang memadai karena belum adanya kesadaran diri pribadi masyarakat itu sendiri.
V.  KESIMPULAN DAN SARAN
5.1  Kesimpulan
        Berdasarkan hasil dan pembahasan praktek lapang Kajian Lingkungan Hidup, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut  :
1.    Pengolahan sampah yang di lakukan masyarakat di daerah tepi talise dilakukan dengan cara bergotong royong, lalu membuang sampah pada tempatnya dan kemudian membakarnya.
2.      Masyarakat di kedua lokasi pengmatan tersebut masih sebagian kecil yang tahu akan pencemaran perairan dan dampak apa saja yang di akibatkan dari pencermaran perairan tersebut.
3.      Pencemaran perairan yang terjadi di kedua lokasi pengamatan tersebut berasal dari limbah-limbah rumah tangga, pestisida dan limbah buang industri (PLTU) yang ada disekitar perairan tempat tinggal mereka.
5.2  Saran
       Sebagai praktikan, saya menyarankan agar kiranya pada praktek lapang kedepannya, melakukan pengukuran parameter kualitas air. Dengan tujuan dapat mengetahui sejauh mana perairan tersebut tercemar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar