Tampilkan postingan dengan label Budidaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budidaya. Tampilkan semua postingan

Jumat, 31 Mei 2013

Makalah Budidaya Ikan Mas



BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Ikan mas (Cyprinus carpio, L.) merupakan spesies ikan air tawar yang sudah lama dibudidayakandan terdomestikasi dengan baik di dunia. Di Cina, para petani telah membudidayakan sekitar 4000 tahun yang lalu sedangkan di Eropa beberapa ratus tahun yang lalu. Sejumlah varietas dan subvarietas ikan mas telah banyak dibudidayakan Asia Tenggara sebagai ikan konsumsi dan ikan hias
Ketersediaan benih sebagai unsur yang mutlak dalam budidaya. Usaha budidaya tidak cukup bila hanya mengandalkan benih secara alami, karena bersifat musiman seperti ikan mas (Cyprinus carpio, L) yang ditemukan hanya pada awal musim hujan. Penyediaan benih tidak hanya dalam jumlah yang cukup dan terus-menerus, tetapi diperlukan mutu yang baik serta tepat sasaran.
Sejalan dengan perkembangan teknologi diberbagai bidang ilmu termasuk bidang perikanan, budidaya ikan sedang mengarah ke berbagai budidaya intensif. Intensifikasi di bidang perikanan menuntut adanya ketersediaan benih dalam jumlah dan mutu yang memadai secara kontinyu. Kontinyuitas ketersediaan benih tersebut membutuhkan kegiatan pembenihan yang intensif pula. Pembenihan yang intensif membutuhkan dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena itu, penggalian ilmu pengetahuan dan teknologi adalah kegiatan praktikum di lapangan bagi mahasiswa perikanan.
Pemijahan dapat dilakukan dengan cara alami atau buatan. Pemijahan alami dimaksudkan pemijahan yang dilakukan secara alami antara jantan dan betina di dalam media pemijahan. Sedangkan pemijahan buatan dilakukan di luar media pemijahan, biasanya dilakukan dengan bantuan manusia atau dengan stripping (pemijahan). Saat ini, telah dijual dipasaran hormon gonadotropin yang dibuat dari ekstrak kelenjar hipofisa, ikan salmon dengan nama dagang ovaprim produksi Syndel Co, Vancoaver, Canada.
Adanya keberhasilan penemuan ekstrak hormon tersebut dapat memacu terjadinya peningkatan proses pemijahan. Sehingga, dalam usaha kegiatan pemijahan ikan akan memberikan dan meningkatkan hasil benih ikan yang berkualitas.

1.2 Tujuan
  1. Mahasiswa dapat memahami kaitannya dengan aplikasi hormon untuk kegiatan pemijahan ikan.
  2. Mahasiswa Dapat Mengaplikasi teori yang di dapat dalam penyusunan Makalah Ini.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
  
2.1. Klasifikasi Ikan Mas (Cyprinus carpio L)

Dalam ilmu taksonomi hewan, klasifikasi ikan mas adalah sebagai berikut:
Kelas : Osteichthyes
    Anak kelas : Actinopterygii
            Bangsa : Cypriniformes
                  Suku : Cyprinidae
                      Marga : Cyprinus
                          Jenis : Cyprinus carpio L.


2.2  Jenis Dan Morfologi Ikan Mas
 Saat ini ikan mas mempunyai banyak ras atau stain. Perbedaan sifat dan ciri dari ras disebabkan oleh adanya interaksi antara genotipe dan lingkungan kolam, musim dan cara pemeliharaan yang terlihat dari penampilan bentuk fisik, bentuk tubuh dan warnanya. Adapun ciri-ciri dari beberapa strain ikan mas adalah sebagai berikut:
  1. Ikan mas punten: sisik berwarna hijau gelap; potongan badan paling pendek; bagian punggung tinggi melebar; mata agak menonjol; gerakannya gesit; perbandingan antara panjang badan dan tinggi badan antara 2,3:1.
  2. Ikan mas majalaya: sisik berwarna hijau keabu-abuan dengan tepi sisik lebih gelap; punggung tinggi; badannya relatif pendek; gerakannya lamban, bila diberi makanan suka berenang di permukaan air; perbandingan panjang badan dengan tinggi badan antara 3,2:1.
  3. Ikan mas si nyonya: sisik berwarna kuning muda; badan relatif panjang; mata pada ikan muda tidak menonjol, sedangkan ikan dewasa bermata sipit; gerakannya lamban, lebih suka berada di permukaan air; perbandingan panjang badan dengan tinggi badan antara 3,6:1.
  4. Ikan mas taiwan: sisik berwarna hijau kekuning-kuningan; badan relatif panjang; penampang punggung membulat; mata agak menonjol; gerakan lebih gesit dan aktif; perbandingan panjang badan dengan tinggi badan antara 3,5:1.
  5. Ikan mas koi: bentuk badan bulat panjang dan bersisisk penuh; warna sisik bermacam-macam seperti putih, kuning, merah menyala, atau kombinasi dari warna-warna tersebut. Beberapa ras koi adalah long tail Indonesian carp, long tail platinm nishikigoi, platinum nishikigoi, long tail shusui nishikigoi, shusi nishikigoi, kohaku hishikigoi, lonh tail hishikigoi, taishusanshoku nshikigoi dan long tail taishusanshoku nishikigoi. Dari sekian banyak strain ikan mas, di Jawa Barat ikan mas punten kurang berkembang karena diduga orang Jawa Barat lebih menyukai ikan mas yang berbadan relatif panjang. Ikan mas majalaya termasuk jenis unggul yang banyak dibudidayakan.
2.3    Pembenihan ikan mas

             Hal yang paling penting dalam pembenihan ialah dalam hal pemeliharaan induk dan seleksi induk. Dibawah ini paparan mengenai pemeliharaan dan seleksi induk
a.    Pemeliharaan Induk
  • Untuk Jantan dan betina dipelihara terpisah
  • Umur dan bobot     : 1.5 – 2 tahun  dengan bobot diatas 2 Kg untuk Betina dan 8 Bulan dengan bobot jantan diatas 0.5 Kg untuk Jantan
  • Media yang bisa dipakai adalah kolam air tenang dan kolam air deras
  • Untuk pakan menggunakan pellet degan kadar protein 28-30%
  • Dosis pemberikan pakan adalah 3% dari bobot tubuh
  • Untuk pemulihan induk betina 2-3 bulan dan untuk jantan 1 bulan
b.    Seleksi Induk
  • Induk harus sesuai deengan standar baik berat maupun umur
  • Tidak sekerabat
  • Jantan yang siap pijah bila distriping keluar sperma putih, namun dalam pemijitan haruslah hati hati jangan sampai sperma yang di keluarkan terlalu banyak yang berakibat pada saat pembuahan persedian sperma berkurang
  • Untuk betina perut buncit bila dipijit terasa lunak
  • Genital kemerahan dan agak membengkak untuk betina
  • Pergerakan lamban untuk betina dikarnakan sedang mengandung telur yang banyak.
Untuk pemijahan ikan mas terbagi kedalam 2 teknik diantaranya secara alami dan pemberian hormon.

a.      Pemijahan alami

      Pemijahan secara alami dilakukan bisa dimedia bak ataupun di kolam tanah, dimana kita sediakan kakaban baik itu media bak maupun kolam tanah. Untuk media kolam tanah biasa menggunakan hapa berukuran panjang 6 meter dan lebar 2 meter dimana induk jantan dan betina disatukan dalam hapa yang telah terisi kakaban. Untuk perbanding banyaknya indukan biasanya 1:5 atau 6 dimana betina 1 jantan nya 5 atau 6 ekor, pemijahan/kawin biasa pada malam hari, dan keesokan harinya telur sudah menempel pada kakaban. Untuk tahap selanjutnya adalah pengangkatan induk baik jantan maupun betina diangkat dan dipindahkan pada media kolam tempat pemeliharaan induk.

b.     Pemijahan menggunakan Hormon

      Pemijahan menggunakan hormon adalah pemijahan secara buatan dimana induk betina disuntik dengan hormon ovaprim dengan dosis 1 kg menggunakan hormon 0,5 ml dengan 2 kali penyuntikan dimana penyuntikan pertama 1/3 setelah 8 jam penyuntikan dilakukan 2/3 nya. Setelah telur ada yang keluar dari indukan betina saat itulah dilakukan striping atau pengurutan dimana telur yang keluar diaduk dengan sperma jantan yang telah di campur dengan Nacl. Telur yang telah telah diaduk dengan sperma lalu di tebar pada kakaban/ijuk yang telah di letakan pada media bak atupun media kolam.

2.    Pendederan

       Pendederan biasa dilakukan pada media kolam air tenang dimana sebelumnya kolam yang akan dipakai sudah melalui pemupukan dan pengapuran. Ketinggian air pada pase pendederan adalah 40-70 cm. untuk penggunaan media air tenang selain di kolam tanah bisa juga disawah yang belum ditanami padi atau pun padi yang baru tanam. Ada hal yang harus diperhatikan pada persiapan kolam atau sawah dimana kondisi kolam haruslah tidak bocor dan sudah menggunakan kamalir atau parit yang diujungnya telah tersedia kobakan supaya memudahkan pada saat pemanenan. ukuran yang dihasilkan pada masa pendederan biasanya antara 2-3 cm sampai dengan 4-5 cm.

3.        Pembesaran.

         Untuk pembesaran media yang dipakai biasanya adalah media kolam jaring apung, kolam air deras  atau di karamba. Media yang menggunakan jaring terapung dengan tebar ukuran berat benih 10 gram untuk kapasitas tebar 100 ekor/m3 dengan lama pemeliharaan 3 bulan dengan pemberiat pellet 3-4% dari bobot tubuh, sedangkan pada media kolam air deras dengan tebar ukuran berat benih 20-30 gram/ekor untuk kapasitas tebar 100 ekor/m3 dengan lama pemeliharaan       4abulan.
Melihat hal tersebut diatas ada perbedaan percepatan pertumbuhan antara pemeliharaan pembesaran di jarring terapung dengan pemeliharaan di kolam air deras, dimana pembesaran di jaring terapung lebih cepat besar itu dikarnakan suhu dan kadar oksigen dalam air relative stabil dan menunjang untuk percepatan pertumbuhan ikan.

Sedangkan ciri-ciri untuk membedakan induk jantan dan induk betina adalah sebagai berikut:
1.     Betina

  •    Badan bagian perut besar, buncit dan lembek.

  •    Gerakan lambat, pada malam hari biasanya loncat-loncat.

  •    Jika perut distriping mengeluarkan cairan berwarna kuning.

2.     Jantan

  •    Badan tampak langsing.

  •    Gerakan lincah dan gesit.

  •    Jika perut distriping mengeluarkan cairan sperma berwarna putih.

    
2.3. Reproduksi Ikan mas (Cyprinus carpio L)
   Reproduksi pada ikan dikontrol oleh kelenjar pituitari yaitu kelenjar hipotalamus, hipofisis – gonad, hal tersebut dipengaruhi oleh adanya pengaruh dari lingkungan yaitu temperatur, cahaya, cuaca yang diterima oleh reseptor dan kemudian diteruskan ke sistem syaraf kemudian hipotalamus melepaskan hormon gonad yang merangsang kelenjar hipofisa serta mengontrol perkembangan dan kematangan gonad dalam pemijahan (Sumantadinata, 1981).
Reproduksi merupakan kemampuan indivudu untuk menghasilkan keturunan sebagai upaya untuk melestarikan jenisnya atau kelompoknya. Ikan memiliki ukuran dan jumlah telur yang berbeda, tergantung tingkah laku dan habitatnya.          Sebagian ikan memiliki jumlah telur banyak, namun ukurannya kecil, sehingga sintasan rendah. Sebaliknya ikan  memiliki telur sedikit, ukurannya besar. Kegiatan reproduksi pada setiap jenis hewan air  berbeda-beda, tergantung kondisi lingkungnya (Fujaya, 2004).
 Pemijahan adalah proses perkawinan antara ikan jantan dan ikan betina yang mengeluarkan sel telur dari betina, sel sperma dari jantan dan terjadi di luar tubuh ikan (eksternal). Dalam budidaya ikan, teknik pemijahan ikan dapat dilakukan dengan tiga macam cara, yaitu:
  1. Pemijahan ikan secara alami, yaitu pemijahan ikan tanpa campur tangan manusia, terjadi secara alamiah (tanpa pemberian rangsangan hormon),
  2. Pemijahan secara semi intensif, yaitu pemijahan ikan yang terjadi dengan memberikan rangsangan hormon untuk mempercepat kematangan gonad, tetapi proses ovulasinya terjadi secara alamiah di kolam,
  3. Pemijahan ikan secara intensif, yaitu pemijahan ikan yang terjadi dengan memberikan rangsangan hormon untuk mempercepat kematangan gonad serta proses ovulasinya dilakukan secara buatan dengan teknik stripping atau pengurutan (Gusrina, 2008).
2.4. Induk Ikan mas (Cyprinus carpio L)
Menurut Sumantadinata (1981) ikan betina matang kelamin dicirikan dengan perut yang relatif membesar dan lunak bila diraba, dari lubang genital keluar cairan jernih kekuningan, naluri gerakan lambat, postur tubuh gemuk, warna tubuh kelabu kekuningan, dan lubang genital berbentuk bulat telur agak melebar dan membengkak. Sedangkan ciri ikan jantan yang sudah matang kelamin yaitu mudah mengeluarkan sperma (milt) jika perutnya diurut (stripping), naluri gerakkannya lincah, postur tubuh dan perut ramping, warna tubuh kehijauan dan kadang gelap, lubang urogenital agak menonjol serta sirip dada kasar dan perutnya keras.
Ovulasi adalah proses keluarnya sel telur (oosit) yang telah matang dari folikel dan masuk ke dalam rongga ovarium atau rongga perut (Nagahama, 1990 dalam Gusrina, 2008). Menurut Gusrina (2008) pelepasan telur terjadi akibat:
  1. Telur membesar,
  2. Adanya kontraksi aktif dari folikel (bertindak sebagai otot halus) yang menekan sel telur keluar,
  3. Daerah tertentu pada folikel melemah, membentuk benjolan hingga pecah dan terbentuk lubang pelepasan hingga telur keluar (enzim yang berperan dalam pemecahan diding folikel: protease iplasmin kemudian diikuti oleh hormon prostaglandin F2a (PGF2a) atau chotecholamin yang merangsang kontraksi aktif dari folikel).
Telur ikan mas (Cyprinus carpio L) banyak mengandung kuning telur yang mengumpul pada suatu kutub, tipe telur yang demikian dinamakan Telolechital (Sumantadinata, 1981). Ditambahkan pula oleh Djajareja dkk (1977) dalam Triyani (2002) warna telur ikan ini transparan dan bersifat demersal (terbenam di dasar perairan). Sementara menurut Soeminto dkk (1995) dalam Triyani (2002) telur ikan ini diameter berkisar antara 0,8 mm – 1,2 mm.
Menurut Cassie dan Effendie (1979) berat rata – rata dan panjang total untuk ikan mas diantaranya:
  1. Berat rata – rata induk betina 200,7 gram, panjang total rata – rata induk betina 28,7 cm, dan
  2. Berat rata – rata induk jantan 187,3 gram, panjang total rata – rata induk jantan 28,2 cm.
2.5. Hormon Ovaprim Yang digunakan Dalam Pemijahan Ikan Mas
Hormon merupakan suatu senyawa yang ekskresikan oleh kelenjar endokrin, dimana kelenjar endokrin adalah kelenjar buntu yang tidak memiliki saluran (Zairin, 2002). Kelenjar endokrin pada ikan menurut Lagler et al. (1962) dalam Gusrina (2008) terdapat beberapa organ antara lain adalah pituitari, pineal, thymus, jaringan ginjal, jaringan kromaffin, interregnal tissue, corpuscles of stannus, thyroid, ultibranchial, pancreatic islets, intestinal tissue, intestitial tissue of gonads dan urohypophysis.
Hormon juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi efektifitas pada ikan. Dosis hormon yang diberikan sangat erat kaitannya dengan efisiensi dan selanjutnya akan mempengaruhi nilai ekonomis jika pemberian hormon dosisnya terlalu rendah maka akan menyebabkan proses sex reversal yang berlangsung kurang sempurna (Zairin, 2002).
Ovaprim adalah campuran analog salmon GnRH dan Anti dopamine dinyatakan bahwa setiap 1 mL ovaprim mengandung 20 mg sGnRH-a (D-Arg6-Trp7, Lcu8,Prog-NET) – LHRH dan 10 mg Anti dopamine. Ovaprim juga berperan dalam memacu terjadinya ovulasi. Pada proses pematangan gonad GnRH analog yang terkandung di dalamnya berperan merangsang hipofisa untuk melepaskan gonadotropin. Sedangkan sekresi gonadotropin akan dihambat oleh dopamine. Bila dopamine dihalangi dengan antagonisnya maka peran dopamine akan terhenti, sehingga sekresi gonadotropin akan meningkat (Gusrina, 2008).

2.6. Penyuntikan Induk
Menurut Sutisna dan Sutarmanto (1995), teknik penyuntikan dengan arah jarum suntik membuat sudut 600 dari ekor bagian belakang dan jarum dimasukkan sedalam kurang lebih 1,5 cm. Hal ini ditujukkan supaya ovaprim benar – benar masuk ke bagian organ target. Pada saat dilakukan penyuntikan sebaiknya ikan dibungkus dengan jarring agar tidak lepas. Pada ikan yang lebih besar biasanya penyuntikkan dilakukan lebih dari satu orang, yakni orang pertama memegang ekor dan kepala, sedangkan orang yang lainnya menyuntikkan hormon ovaprim. Santoso (1997) menambahkan penyuntikan disarankan mengarah ke bagian depan (arah kepala) ikan, agar tidak mengenai organ bagian pencernaan dan tulang ikan. Apabila mengenai organ tersebut maka proses penyuntikkan tidak akan memacu kelenjar hipofisa untuk mengeluarkan hormon GnRH dalam proses pemijahan (tidak terjadinya proses pemijahan).
Teknik penyuntikan hormon pada ikan ada 3 yaitu intra muscular (penyuntikan kedalam otot), intra peritorial (penyuntikan pada rongga perut), dan intra cranial (penyuntikan di kepala) (Susanto, 1999). Dari ketiga teknik penyuntikkan yang paling umum dan mudah dilakukan adalah intra muscular, karena pada bagian ini tidak merusak organ yang penting bagi ikan dalam melakukan proses metabolisme seperti biasanya dan tingkat keberhasilan lebih tinggi dibandingkan dengan lainnya. Menurut Muhammad dkk (2001) secara intra muscular yaitu pada 5 sisik ke belakang dan 2 sisik ke bawah bagian sirip punggung ikan.

Proses atau cara kerja pengunaan hormon dalam Melakukan penyuntikan Pada Ikan Mas
1.     Disiapkan ikan jantan dan betina pada akuarium yang telah disiapkan.
2.     Diambil larutan hormon ovaprim dengan menggunakan alat suntik sesuai dengan dosis yang sudah ditentukan.
3.     Diambil ikan betina dengan tangan dan diusahakan jangan lepas, kemudian larutan ovaprim yang sudah ditambahkan dengan akuades sehingga didalam alat suntik menunjukkan banyaknya ovaprim dan akuades 2 cc.
4.     Ikan yang sudah dipegang, dengan hati-hati alat suntik ditusukkan pada bagian punggung ikan antara sirip punggung jari-jari yang ketiga dan jarak 3 sisik ke bawah.
5.     Alat suntik dimasukkan pada bagian bawah sisik, hal ini dilakukan agar ikan tidak stress.
6.     Disuntikan hormon ovaprim yang bercampur dengan akuades ke dalam ikan dengan kemiring ± 600 (sudut).
7.     Untuk ikan betina dosis yang diberikan untuk suntikkan pertama dari dosis 2 cc ovaprim dan akuades sebanyak 1,2 cc, sedangkan untuk suntikkan yang kedua apabila ikan tidak berhasil memijah setengah bagian dari dosis keseluruhan.
8.     Setelah ikan diberikan suntikkan hormon ovaprim, ikan betina diletakkan kembali ke dalam akuarium yang telah disiapkan.
9.     Selanjutnya ikan jantan diambil seperti halnya yang dilakukan pada ikan berina, namun untuk dosis ikan betina pada penyuntikkan pertama diberi dosis 0,8 cc, dan apabila penyuntikkan pertama gagal memijah, maka sama halnya seperti ikan betina yaitu untuk penyuntikkan yang kedua sebagian dari dosis keseluruhan.
10.  Setelah proses penyuntikkan, diamati 6 jam kemudian. Apabila tidak terjadi pemijahan maka dilakukan penyuntikkan untuk kali kedua dan diamati lagi setelah 6 – 8 jam kemudian. 
DAFTAR PUSTAKA
  DAMANA, Rahman. 1990. Pembenihan Ikan Mas Secara Intensif dalam Sinar Tani. 2 ,Juni  1990.
GUNAWAN. Mengenal Cara Pemijahan Ikan Mas dalam Sinar Tani. 27 Agustus 1988.
RUKMANA, Rahmat. 1991. Budidaya Ikan Mas, Untungnya Bagai Menabung Emas dalam Sinar Tani. 13 Februari 199.
Susanto, H. 2001. Budidaya Ikan di Pekarangan. Penebar Swadaya, Jakarta.
Susanto, H. 1999. Teknik Kawin Suntik Ikan Ekonomis. Penebar Swadaya, Jakarta.

Kamis, 29 November 2012

Planktonologi dan Tanaman Air



BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia dikenal memiliki kekayaan sumber daya perikanan yang cukup besar terutama dalam kategori jenis-jenis ikan.  Diperkirakan sekitar 16 % spesies ikan yang ada di dunia hidup di perairan Indonesia.  Menurut data, total jumlah jenis ikan yang terdapat di perairan Indonesia mencapai 7000 jenis.  Hampir sekitar 2000 spesies diantaranya merupakan jenis ikan air tawar.  Ikan air tawar merupakan jenis ikan yang hidup dan menghuni perairan daratan (inland water), yaitu perairan dengan kadar garam (salinitas) kurang dari 5 ppm (0-5 ppm).  Dari sekitar 2000 spesies ikan air tawar yang terdapat di Indonesia, sedikitnya ada 27 jenis yang sudah dibudidayakan.  Ikan-ikan yang dibudidayakan tersebut merupakan jenis ikan konsumsi yang memiliki nilai ekonomis penting. 
            Ditinjau dari aspek pasarnya, terlihat ada kecenderungan peningkatan permintaan ikan konsumsi dari tahun ke tahun.  Hal ini terutama terjadi di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dan beberapa kota besar lain ditanah air.  Dari segi nilai jual, harga ikan mas biasanya selalu lebih tinggi dibandingkan dengan harga jual ikan air tawar jenis lain.  Tingginya harga ini tentunya berkaitan dengan tingginya permintaan pasar.  Dari sisi budidaya, tentunya keadaan ini sangat menguntungkan karena tingginya permintaan ikan mas konsumsi akan diikuti dengan peningkatan permintaan benih, baik untuk benih yang akan dipelihara untuk kegiatan pendederan, maupun untuk pembesaran (Amri dan Khairuman, 2008).
Berdasarkan hal tersebut, untuk menghasilkan ikan konsumsi yang unggul baik dalam produksi maupun pertumbuhannya maka akan dilakukan praktek kerja lapang dengan teknik manipulasi kromosom secara tetraploidisasi untuk perbaikan dan peningkatan kualitas genetik ikan guna menghasilkan benih-benih ikan yang mempunyai keunggulan, antara lain: pertumbuhan cepat, toleran terhadap lingkungan dan memliki daya tahan yang tinggi terhadap penyakit. 

2.1 Tujuan  dan Kegunaan

Tujuan dari kegiatan Praktek Kerja Lapang (PKL) adalah untuk mempelajari teknik tetraploidisasi pada ikan mas (Cyprinus carpio).  Kegunaan dari Praktek Kerja Lapang (PKL) yaitu untuk menambah pengetahuan dan wawasan mahasiswa mengenai teknik-teknik manipulasi kromosom khususnya dalam metode tetraploidisasi.            

II. RENCANA KERJA
2.1  Tempat dan Waktu
Praktek Kerja Lapang akan dilaksanakan selama kurang lebih 1 bulan mulai dari bulan November sampai Desember 2012.  Tempat pelaksanaan Praktek Kerja Lapang di Politeknik Pertanian Negeri Pangkep Kecamatan Mandalle, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Provinsi Sulawesi Selatan.
2.2 Kegiatan Yang Akan Dilaksanakan
2.2.1 Pengenalan organisme yang akan digunakan
                Menurut Amri dan Khairuman (2008), Klasifikasi dan morfologi ikan mas adalah sebgai berikut :
Phyllum           : Chordata
    Subfilum   : Vertebrata
           Kelas       : Pisces
                 Subkelas   : Actinopterygii
                          Ordo     : Cipriniformes
                                    Family    : Cyprinidae
                                                 Genus    : Cyprinus
                                                       Spesies   : Cyprinus carpio                           
Bentuk tubuh ikan mas agak memanjang dan pipih tegak (compressed).  Mulutnya terletak di bagian tengah ujung kepala (terminal) dan dapat disembulkan (protaktil).  Di bagian anterior mulut terdapat dua pasang sungut.  Di ujung dalam mulut terdapat gigi kerongkongan yang terbentuk atas tiga baris gigi geraham.  Secara umum, hampir seluruh tubuh ikan mas ditutupi sisik, kecuali pada beberapa varietas yang hanya memiliki sedikit sisik.  Sisik ikan mas berukuran besar dan dapat digolongkan ke dalam sisik tipe sikloid (lingkaran).
Sirip punggungnya (dorsal) memanjang dengan bagian belakang berjari keras dan di bagian akhir (sirip ketiga dan ke empat) bergerigi.  Letak sirip punggung berseberangan dengan permukaan sirip perut (ventral).  Sirip duburnya (anal) mempunyai ciri seperti sirip punggung, yaitu berjari keras dan bagian akhirnya bergerigi.  Linea literalis tergolong lengkap, berada di perengahan tubuh dengan bentuk melintang dari tutup insang sampai ke ujung belakang pangkal ekor.
2.2.2 Persiapan dan Pemijahan Induk
Induk yanng akan digunakan untuk praktek tetraploidisasi adalah induk ikan mas (Cyprinus carpio) yang sudah matang gonad dan siap pijah. Menurut Amri dan Khairuman (2008), induk mas betina yang sudah matang gonad memiliki ciri-ciri yaitu bagian perutnya tampak gendut dan tampak menggelambir jika dilihat dari atas. Apabila diraba, perutnya terasa lembek dan disekitar lubang urogenitalinya tampak memerah dan akan keluar telurnya jika dipijit. Induk jantan yang sudah matang gonad memiliki ciri-ciri yaitu ditandai dengan keluarnya sperma yang berwarna putih jika daerah urogenitalnya dipijit atau diurut. 
2.2.3 Pengambilan Telur dan Sperma
Pengambilan telur dan sperma ikan mas akan dilakukan setelah nampak tanda-tanda ikan akan memijah.  Menurut Mukti (2005), setelah nampak tanda-tanda ikan mulai memijah, induk ikan mas betina dan jantan ditangkap dan dilakukan pengurutan di bagian abdominal (stripping) untuk mendapatkan (koleksi) telur dan sperma ikan mas. Telur-telur yang diperoleh kemudian ditampung dalam mangkok plastik kering, sedangkan sperma ditampung dalam tabung reaksi.
2.2.4 Fertilisasi buatan dan perlakuan kejutan panas
Setelah dilakukan pengambilan sperma dan telur, kegiatan selanjutnya yang akan dilakukan yaitu fertilisasi buatan dan perlakuan kejutan panas.  Menurut Mukti,dkk (2001), perlakuan poliploidisasi dilakukan melalui tahapan-tahapannya sebagai berikut: telur ikan mas dalam petridisk hasil stripping diambil mempergunakan spatula dan diletakkan dalam petridisk bersih dan kering. Selanjutnya, larutan sperma diteteskan pada telur sebanyak 2-3 tetes dan dilakukan pengadukan (dicampur) secara perlahan menggunakan bulu ayam.  Kemudian, campuran larutan sperma dan telur ditambahkan air bersih sebanyak 3-4 tetes untuk melangsungkan proses fertilisasi telur dan secara perlahan-lahan diaduk mempergunakan bulu ayam. Setelah satu menit, telur yang telah terfertilisasi dibagi menjadi 3 kelompok perlakuan dan disebar pada masing-masing saringan yang telah ditempatkan dalam wadah berisi larutan urea dan garam 3:4 untuk 1 liter air.  Telur - telur terfertilisasi dalam kelompok tetraploidisasi, 29 menit setelah fertilisasi dilakukan perlakuan kejutan suhu panas 40°C selama 1,5 menit.

2.2.5 Penanganan telur dan larva
Setelah perlakuan kejutan panas, telur dipindahkan kedalam wadah berupa akuarium untuk  proses penetasan dan selanjutnya akan dilakukan pengamatan embrio dibawah mikroskop.  Menurut Partosuwiryo dan Warseno (2011), Sesudah menetas, larva dibiarkan terlebih dahulu selama dua hari, dengan tujuan agar kondisi tubuh larva menjadi kuat.  Dalam waktu itu  larva tidak membutuhkan pakan tambahan karena masih mempunyai cadangan makanan berupa kuning telur.  Pakan cadangan ini akan habis dalam waktu 2-4 hari. 
2.2.6 Pengukuran Kualitas Air
Dalam pemeliharaan larva akan dilakukan pengukuran kualitas air.  Parameter yang nantinya akan diukur yaitu suhu, oksigen terlarut (DO), dan pH.  Menurut Kordi (2000) Oksigen terlarut di dalam air 5-6 ppm dianggap paling ideal untuk tumbuh dan berkembang biak ikan di kolam dan tambak.  Kebutuhan oksigen untuk tiap jenis biota air berbeda-beda tergantung jenis dan kemampuan untuk mentolerir fluktuasi (naik turunnya oksigen).  Suhu juga mempengaruhi selera makan ikan. ternyata ikan relatif lahap makan pada pagi dan sore hari sewaktu suhu air berkisar antara 25-270C. 
Keasaman air atau yang populer dengan istilah pH sangat berperan dalam kehidupan ikan.  Pada yang sangat cocok untuk semua jenis ikan berkisar antara umumnya pH 6,7- 8,6 (Susanto, 1987).

DAFTAR PUSTAKA
Kordi, 2000. Penanggulangan Hama dan Penyakit Ikan. Bina Adiaksara, Jakarta.

Kadi, A. Manipulasi Poliploidi Untuk Memperoleh Jenis Baru Yang Unggul. Oseana, Volume XXXII, Nomor 4, Tahun 2007 : 1 – 11.

Khairuman dan Amri,K.2008. Buku Pintar Budi Daya 15 Ikan Konsumsi. Penerbit Agro Media Pustaka.Jakarta

Mukti, A,T. Perbedaan keberhasilan Tingkat poliploidisasi ikan mas(Cyprinus carpio Linn.) melalui kejutan panas. Berk. Penel. Hayat i: 10 (133–138), 2005.

Mukti, A.T.; Rustidja; J.B. Sumitro dan M.S. djati 2001. Poliploidisasi Ikan Mas (Cyprinus carpio L.). Biosain,1(1): 22-36.

Susanto, H.,1987. Budidaya Ikan di Pekarangan. Penebar Swadaya, Jakarta.
Susanto,Heru dan Agus Rochdianto, 1999. Kiat Budidaya Ikan Mas di Lahan Kritis.  Penebar Swadaya, Jakarta.

Utiah, A dan Sinjal,H. Tingkat Keberhasilan Triploidisasi Pada Ikan Mas (Cyprinus carpio L) Yang Diberi Kejutan Suhu Panas Dengan Lama Waktu Kejutan Suhu Yang Berbeda. Pacific Journal. Juni 2012. Vol. 2 (7) : 1350 – 1353.

Warseno, Y dan Partosuwiryo, S. 2011. Kiat Sukses Budidaya Ikan Mas.Penerbit :PT Citra Aji Parama, Yogyakarta.