Monday, 5 November 2012

Teknik Pembesaran Ikan Nila



I.  PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan spesies yang berasal dari Wilayah Sungai Nil dan sekitar danau di Afrika.  Bentuk tubuh memanjang, pipih kesamping dan warna putih kehitaman.  Jenis ini merupakan ikan konsumsi air tawar yang banyak dibudidayakan setelah Ikan Mas (Cyrprinus Carpio) dan telah dibudidayakan di lebih dari 85 negara.  Saat ini, ikan ini telah tersebar ke Negara beriklim tropis dan subtropis, sedangkan pada wilayah beriklim dingin tidak dapat hidup dengan baik.
Bibit nila didatangkan ke indonesia secara resmi oleh balai peneliti perikanan air tawar (balitkanwar) dari taiwan pada tahun 1969.  Setelah melalui masa penelitian dan adaptasi, ikan ini kemudian disebarluaskan kepada petani di seluruh indonesia.  Nila adalah nama khas indonesia yang diberikan oleh pemerintah melalui direktur jenderal perikanan.nila merupakan jenis ikan air tawar yang sudah dibudidayakan secara luas di indonesia.  Teknologi budidayanya sudah di kuasai dengan tingkat produksi yang cukup tinggi.  Jenis ikan nila yang telah berkembang di masyarakat adalah nila hitam dan nila merah.  Dalam rangka perbaikan genetik, jenis yang telah berhasil dikembangkan adalah nila gesit, nila jica, nila larasti, nila best, nila nirwana, nila jatimbulan.  Nila disukai oleh semua kalangan karena mudah dipelihara, dapat dikonsumsi, serta rasa daging yang enak dan tebal. Tekstur daging ikan nila memiliki ciri tidak ada duri kecil dalam dagingnya.  Oleh karena itu, ikan nila layak untuk digunakan sebagai bahan baku olahan.  Peluang pasar ikan nila cukup besar baik di pasar lokal maupun ekspor, sehingga upaya pengembangan usaha budidaya nila masih terbuka untuk dikembangkan dalam berbagai skala usaha.
1.2 Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah mata Kuliah Manajemen Perikanan Budidaya Tawar yang mengenai budidaya Ikan nila (Oreochromis niloticus) yaitu untuk mengetahui tehnik pembesaran yang baik dalam budidaya Ikan nila (Oreochromis niloticus) di kolam air tenang.  

II.  TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kalsifikasi Ikan Nila

                   
            Gambar 1. Ikan Nila
Menurut Sugiarto (1988), Klasifikasi dan ciri-ciri ikan nila adalah sebagai berikut:
Kelas : Osteichthyes
Sub-kelas : Acanthoptherigii
Ordo : Percomorphi
Sub-ordo : Percoidea
Family : Cichlidae
Genus : Oreochromis
Spesies : Oreochromis niloticus
2.2 Morfologi Ikan Nila
Berdasarkan morfologinya, kelompok ikan Oreochromis memang berbeda dengan kelompok tilapia. Secara umum, bentuk (tubuh nila memanjang dan ramping, dengan sisik berukuran besar. Betuk matanya besar dan menonjol dengan tepi berwarna putih. Gurat sisi (linea literalis) terputus di bagian tengah tubuh, kemudian berlanjut lagi, tetapi letaknya lebih ke bawah dibandingkan dengan letak garis yang memanjang di atas sirip dada. jumlah sisik pada gurat sisi 34 buah. Sirip punggung, sirip perut, dan sirip duburnya memiliki jari-jari lemah, tetapi keras dan tajam seperti duri. Sirip punggung dan sirip dada berwarna. hitam. Pinggir sirip punggung berwarna abu-abu atau hitam. Nila memiliki lima buah Sirip, yaitu sirip punggung (dorsal fin), sirip data (pectoral fin) sirip perut (venteral fin), sirip anal (anal fin),dan sirip ekor (caudal fin). Sirip punggungnya memanjang dari bagian atas tutup ingsang sampai bagian atas sirip ekor. Terdapat juga sepasang sirip dada dan sirip perut yang berukuran kecil dan sirip anus yang hanya satu buah berbentuk agak panjang. Sementara itu, jumlah sirip ekornya hanya satu buah dengan bentuk bulat (http://yunias19ocean.blogspot.com /2011/01/budidaya-ikan-nila-oreochromis.html).
Ikan Nila mempunyai ciri-ciri, yaitu bentuk badan pipih kesamping memanjang, mempunyai garis vertikal sepanjang tubuh 9-11 buah, garis-garis pada sirip ekor berwana merah sejumlah 6-12 buah, pada sirip pungung terdapat garis-garis miring; dan mata tampak menonjol dan besar, tepi mata berwarna putih (http://yunias19ocean.blogspot/2011/01/budidaya-ikan-nila-oreochromis.html).
Nila merupakan ikan sungai atau danau yang cocok dipelihara di perairan tawar yangtenang, kolam dapat berkembang pesat pada perairan payau misalnya tambak. Kebiasaan makan nila diperairan alami adalah plankton, tumbuhan air yang lunak serta caing. Benih nila suka mengkonsumsi zooplankton seperti Rotatoria, Copepoda dan Cladocera; sedangkan termasuk alga yang menempal. Pada perairan umum anakan nila sering terlihat mencari makan di bagian dangkal. Sedangkan Nila dewasa di tempat yang lebih dalam. Nila dewasa mampu mengumpulkan makanan berbentuk plankton dengan bantuan lender (mucus) dalam mulut (http://peluangusaha-oke.com/cara-budidaya-ikan-nila/).


III.  HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Persyaratan Lokasi
1.      Tanah yang baik untuk kolam pemeliharaan adalah jenis tanah liat/lempung, tidak berporos. Jenis tanah tersebut dapat menahan massa air yang besar dan tidak bocor sehingga dapat dibuat pematang/dinding kolam.
2.      Kemiringan tanah yang baik untuk pembuatan kolam berkisar antara 3-5% untuk memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.
3.      Ikan nila cocok dipelihara di dataran rendah sampai agak tinggi (500 m dpl).
4.      Kualitas air untuk pemeliharaan ikan nila harus bersih, tidak terlalu keruh dan tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik.  Kekeruhan air yang disebabkan oleh pelumpuran akan memperlambat pertumbuhan ikan. Lain halnya bila kekeruhan air disebabkan oleh adanya plankton.  Air yang kaya plankton dapat berwarna hijau kekuningan dan hijau kecokelatan karena banyak mengandung Diatom.  Sedangkan plankton/alga biru kurang baik untuk pertumbuhan ikan. Tingkat kecerahan air karena plankton harus dikendalikan yang dapat diukur dengan alat yang disebut piring secchi (secchi disc).  Untuk di kolam dan tambak, angka kecerahan yang baik antara 20-35 cm.
5.      Debit air untuk kolam air tenang 8-15 liter/detik/ha.  Kondisi perairan tenang dan bersih, karena ikan nila tidak dapat berkembang biak dengan baik di air arus deras.
6.      Nilai keasaman air (pH) tempat hidup ikan nila berkisar antara 6-8,5. Sedangkan keasaman air (pH) yang optimal adalah antara 7-8.
7.      Suhu air yang optimal berkisar antara 25-30 derajat C.
8.      Kadar garam air yang disukai antara 0-35 per mil.
3.2 Persiapan
3.2.1 Pembuatan Kolam Air Tenang
1.      Pematang
Pematang dibuat dengan bentuk trapesium, pematang agar tidak mudah roboh atau longsor dibuat lebar pada bagian bawahnya. Kemiringan pematang sebaiknya tidak lebih dari 45 derajat. Dalam membuat kolam pembesaran ikan kedalaman kolam yaitu sekitar 100 – 150 cm, ketinggian air kolam bisa diatur dari ketinggian 50 – 120 cm, ketinggian ini tergantung dari ukuran bibit dan padat penebaran ikan yang ditanam. Bila ikan yang dipeliharaan mulai besar maka ketinggian air kolam ini bisa ditambah menjadi 120 cm.
2.      Dasar Kolam
            Agar kolam bisa kering dan untuk mempermudah dalam pemanenan ikan maka dasar kolam ini harus dibuat miring.  Derajat Kemiringan dasar kolam ini cukup 1%, artinya tiap 100cm dasar kolam miring 1 cm. Kemiringan dasar kolam ini diarahkan kepada kowean dan caren
3.      Kowean dan Caren
            kowean pada kolam dibuat ditengah kolam atau bisa juga dibuat dipinggir kolam budidaya ikan. Ukuran kowean 1 x 1 x 0,4 m diberi tangul keliling sehingga akan terbentuk bak di dalam kolam. Dibuatnya kowean ini berfungsi untuk menebar bibit atau menampung ikan pada saat kolam disurutkan. Caren dibuat dengan lebar 50 – 70 cm, dalamnya 25 – 30 cm. Caren berfungsi untuk menggiring ikan masuk ke kowean saat ikan di panen.
4.      Saluran Pemasukan dan Pembuangan Air
            Untuk saluran pemasukan air kolam (in-let) dibuat didekat saluran utama (main-inlet), saluran masuk dan saluran air keluar (out-let) harus dibuat terpisah.
3.2.2 Pengapuran dan Pemupukan
Dua minggu sebelum dan dipergunakan kolam perlu dilakukan persiapan, yakni dasar kolam dikeringkan, dijemur beberapa hari, dibersihkan dari rerumputan dan dicangkul sambil diratakan. Tanggul dan pintu air diperbaiki jangan sampai teriadi kebocoran.saluran air diperbaiki agar jalan air lancar.  Dipasang saringan pada pintu pemasukan maupun pengeluaran air. Tanah dasar dikapur untuk memperbaiki pH tanah dan memberantas hamanya.  Kapur  yang dapat digunakan  yaitu kapur tohor dengan dosis 100-300 Kg/ha, sedangkan kalau untuk kapur pertanian dosis berkisar antara 500-1000 Kg/ha. Pupuk kandang ditabur dan diaduk dengan tanah dasar kolam. Dapat juga pupuk kandang dionggokkan di depan pintu air pemasukan agar bila diairi dapat tersebar merata. Dosis pupuk kandang 1-2 ton/ha. Setelah semuanya siap, kolam diairi. Mula-mula sedalam 5-10 cm dan dibiarkan 2-3 hari agar teriadi mineralisasi tanah dasar kolam.Lalu tambahkan air lagi sampai kedalaman 80- 100 cm. Kini kolam siap untuk ditebari benih ikan.
3.2.3 Sarana Dan Prasarana
A. Kolam
Sarana berupa kolam yang perlu disediakan dalam usaha budidaya ikan nila tergantung dari sistim pemeliharaannya (sistim 1 kolam, 2 kolam dsb).  Adapun jenis kolam yang umum dipergunakan dalam kegiatan pembesaran budidaya ikan nila antara lain:
1        Kolam pembesaran
Kolam pembesaran berfungsi sebagai tempat untuk memelihara dan membesarkan benih selepas dari kolam pendederan.  Adakalanya dalam pemeliharaan ini diperlukan beberapa kolam pembesaran, yaitu:
a.       Kolam pembesaran tahap I berfungsi untuk memelihara benih ikan selepas dari kolam pendederan. Kolam ini sebaiknya berjumlah antara 2-4 buah dengan luas maksimum 250-500 meter persegi/kolam.  Pembesaran tahap I ini tidak dianjurkan memakai kolam semen, sebab benih ukuran ini memerlukan ruang yang luas. Setelah benih menjadi gelondongan kecil maka benih memasuki pembesaran tahap kedua atau langsung dijual kepada pera petani.
b.      Kolam pembesaran tahap II berfungsi untuk memelihara benih gelondongan besar. Kolam dapat berupa kolam tanah atau sawah.  Keramba apung juga dapat digunakan dengan mata jaring 1,25–1,5 cm.  Jumlah penebaran pembesaran tahap II sebaiknya tidak lebih dari 10 ekor/meter persegi.
c.       Pembesaran tahap III berfungsi untuk membesarkan benih.  Diperlukan kolam tanah antara 80-100 cm dengan luas 500-2.000 meter persegi.
2        Kolam/tempat pemberokan. 
Pembesaran ikan nila dapat pula dilakukan di jaring apung, berupa Hapa berukuran 1 x 2 m sampai 2 x 3 m dengan kedalaman 75-100 cm. Ukuran hapa dapat disesuaikan dengan kedalaman kolam.

B. Peralatan
Alat-alat yang biasa digunakan dalam usaha memanen/menangkap ikan nila antara lain adalah warring/scoopnet yang halus, ayakan panglembangan diameter 100 cm, ayakan penandean diameter 5 cm, tempat menyimpan ikan, keramba kemplung, keramba kupyak, fish bus (untuk mengangkut ikan jarak dekat), anco/hanco (untuk menangkap ikan), lambit dari jaring nilon (untuk menangkap ikan konsumsi), scoopnet (untuk menangkap benih ikan yang berumur satu minggu keatas), seser (gunanya= scoopnet, tetapi ukurannya lebih besar), jaring berbentuk segiempat (untuk menangkap induk ikan atau ikan konsumsi).
C. Persiapan Media
Yang dimaksud dengan persiapan adalah melakukan penyiapan media untuk pemeliharaan ikan, terutama mengenai pengeringan, pemupukan dan lain sebagainya. Dalam menyiapkan media pemeliharaan ini, hal-hal yang perlu dilakukan adalah :
1        Pengeringan kolam selama beberapa hari.  Kemudian dilakukan pengapuran untuk memberantas hama dan ikan-ikan liar sebanyak 25-200 gram/meter persegi
2        Memberikan pemupukan berupa pupuk buatan, yaitu urea masing-masing dengan dosis 50-700 gram/meter persegi, bisa juga ditambahkan pupuk buatan yang berupa urea masing-masing dengan dosis 15 gram dan 10 gram/meter persegi.

3.3 Kegiatan Pembesaran
Pada tahap pembesaran dilakukan pada saat induk ikan meninggalkan anaknya atau benih setelah penetasan sampai dengan ikan tersebut menjadi dewasa atau ikan tersebut menjadi calon induk dan siap di panen.  Dalam tahap pembesaran Ikan Nila, ada beberapa hal yang perlu di lakukan yaitu:
1.      Pemilihan dan Penebaran Benih Ikan Nila
Ciri-ciri benih nila yang unggul adalah sebagai berikut:
a.       Pertumbuhannya sangat cepat.
b.      Sangat responsif terhadap makanan buatan yang diberikan.
c.       Resisten terhadap serangan hama, parasit dan penyakit.
d.      Dapat hidup dan tumbuh baik pada lingkungan perairan yang relatif buruk.
Penebaran ikan nila untuk pembesaran dilakukan setelah berumur 2 bulan. Peneberan benih, sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari atau dalam kondisi suhu rendah untuk menghindari terjadinya stress. Padat penebaran benih unruk kolam air tenang berkisar antara 5-7 ekor/m2  atau 60000 ekor/1000 m2.
2.      Pemberian Pakan Atau Makanan
Ikan nila termasuk dalam ikan pemakan segala atau Omnivora. Ikan ini dapat berkembang biak dengan aneka makanan baik hewani maupun nabati. Ikan nila saat ia masih benih, pakannya adalah plankton dan lumut sedangkan jika ia sudah dewasa ia mampu diberi makanan tambahan seperti pellet.
Selain itu Ikan nila dapat diberi makanan limbah rumah tangga. Pemberian makanan dengan limbah rumah tangga dapat menghemat biaya perawatan dan pemeliharaan. Pemberian pakan sebaiknya dilakukan oleh teknisinya sendiri dapat diketahuii nafsu makan ikan. Pakan yang diberikannya biasanya habis dalam waktu 5 menit.
3.    Pengontrolan Pertumbuhan Ikan
Pertumbuhan dari ikan ini sangat bergantung dari pengaruh fisika dan kimia serta interaksinya. Pada saat curah hujan yang tinggi misalnya pertumbuhan berbagai tanaman air akan berkurang sehingga mengganggu pertumbuhan ikan nila. Ikan nila juga akan lebih cepar tumbuhnya jika dipelihara di kolam yang dangkal airnya, karena di kolam dangkal pertumbuhan tanaman dan ganggang lebih cepat dibandingkan di kolam yang dalam. Ada yang lain yaitu kolam yang pada saat pembuatannya menggunakan pupuk organic atau pupuk kandang juga akan membuat pertumbuhan tanaman air lebih baik dan ikan nila juga akan lebih pesat pertumbuhannya.  Ikan nila dapat mencapai saat dewasa pada umur 4 – 5 bulan dan ia akan mencapai pertumbuhan maksimal untuk bertelur sampai berumur 1,5 – 2 tahun.
Ikan nila jantan bentuknya lebih besar daripada ikan nila betina. Perbedaan pertumbuhan ikan nila jantan dan ikan nila betina selisih 40%. Ikan nila betina petumbuhannya lebih lambat sebab sifat alaminya yang sering menghasilkan anakan ikan dan sebab pada saat ikan nila betina bertelur, ikan nila betina tidak makan kira-kira selama kurang dari sepuluh hari. Ikan nila betina setelah bertelur tugasnya adalah menjaga larva dalam mulutnya sampai ukuran yang cukup kemudian di biarkan keluar dari mulutnya.
4.    Pengontrolan Kualitas Air
Ikan nila memiliki kemampuan menyesuaikan diri yang baik dengan lingkungan sekitarnya. Ikan memiliki toleransi yang tinggi terhadap lingkungan hidupnya.  Sehingga ia bisa dipelihara di dataran rendah yang berair tawar maupun dataran yang tinggi dengan suhu yang rendah. Ia mampu hidup pada suhu 14 – 38oC. Dengan suhu terbaik adalah 25 – 30oC. Hal yang paling berpengaruh dengan pertumbuhannya adalah salinitas atau kadar garam jumlah 0 – 29 % sebagai kadar maksimal untuk tumbuh dengan baik. Meski ia bisa hidup di kadar garam sampai 35% namun ia sudah tidak dapat tumbuh berkembang dengan baik.
5.    Hama dan Penyakit Ikan
A. Hama
1.    Bebeasan (Notonecta)
Berbahaya bagi benih karena sengatannya. Pengendalian: menuangkan minyak tanah ke permukaan air 500 cc/100 meter persegi.
2.    Ucrit (Larva cybister)
Menjepit badan ikan dengan taringnya hingga robek. Pengendalian: sulit diberantas; hindari bahan organik menumpuk di sekitar kolam.
3.    Kodok
Makan telur telur ikan. Pengendalian: sering membuang telur yang mengapung; menagkap dan membuang hidup-hidup.
4.    Ular
Menyerang benih dan ikan kecil. Pengendalian: lakukan penangkapan; pemagaran kolam.
5.    Lingsang
Memakan ikan pada malam hari. Pengendalian:pasang jebakan berumpun.
6.    Burung
Memakan benih yang berwarna menyala seperti merah, kuning.  Pengendalian: diberi penghalang bambu agar supaya sulit menerkam; diberi rumbai-rumbai atau tali penghalang.
B. Penyakit
1.    Penyakit pada kulit
Gejala: pada bagian tertentu berwarna merah, berubah warna dan tubuh berlendir. Pengendalian: Merendamkan ikan nila kedalam larutan PK (kalium permanganat) selama 30-60 menit dengan dosis 2 gram/10 liter air, pengobatan dilakukan berulang 3 hari kemudian. Merendamkan kedalam Negovon (kalium permanganat) selama 3 menit dengan dosis 2-3,5 %.
2.    Penyakit pada insang
Gejala: tutup insang bengkak, Lembar insang pucat/keputihan. Pengendalian: Merendamkan ikan nila kedalam larutan PK (kalium permanganat) selama 30-60 menit dengan dosis 2 gram/10 liter air, pengobatan dilakukan berulang 3 hari kemudian. Merendamkan kedalam Negovon (kalium permanganat) selama 3 menit dengan dosis 2-3,5 %.
3.    Penyakit pada organ dalam
Gejala: perut ikan bengkak, sisik berdiri, ikan tidak gesit. Pengendalian: Merendamkan ikan nila kedalam larutan PK (kalium permanganat) selama 30-60 menit dengan dosis 2 gram/10 liter air, pengobatan dilakukan berulang 3 hari kemudian. Merendamkan kedalam Negovon (kalium permanganat) selama 3 menit dengan dosis 2-3,5 %.
Secara umum ada beberapa cara yang dilakukan untuk dapat mencegah timbulnya penyakit dan hama pada budidaya ikan nila, yaitu :
1.      Pengeringan dasar kolam secara teratur setiap selesai panen.
2.      Pemeliharaan ikan yang benar-benar bebas penyakit.
3.      Hindari penebaran ikan secara berlebihan melebihi kapasitas.
4.      Sistem pemasukan air yang ideal adalah paralel, tiap kolam diberi satu pintu pemasukan air.
5.      Pemberian pakan cukup, baik kualitas maupun kuantitasnya.
6.      Penanganan saat panen atau pemindahan benih hendaknya dilakukan
7.      secara hati-hati dan benar.
8.      Binatang seperti burung, siput, ikan seribu (lebistus reticulatus peters) sebagai pembawa penyakit jangan dibiarkan masuk ke areal perkolaman.
6 Pemanenan Dan Pemasaran
Pemanenan dapat dilakukan pada 3-6 bulan pemeliharaan. Hal ini tergantung pada kesuburan kolam, ukuran ikan yang diharapkan, dan teknik pemeliharaan. Biasanya untuk ukuran 200-300 gr/ekor pemanenan dapat dilakukan selama kurang lebih 4 bulan pemeliharaan. Pemanenan di kolam dapat dilakukan dengan pengeringan air hingga tersisa di kemalir yang untuk selanjutnya dapat ditangkap dengan diseser.
Potensi pasar untuk ikan nila masih sangat lebar dengan harga yang cukup terjangkau pasar, mulai dari nila yang stadium bibit sampai ikan nila yang di kategorikan sebagai ikan konsumsi semua pasar tersebut masih sangat memungkinkan.  Ikan nila ini dapat dipasarkan untuk menyediakan ke berbagai kolam pemancingan ikan, pasar-pasar tradisional maupun supermarket, rumah makan, bahkan untuk skala ekspor.





 Bagi Sobat Yang ingin Melihat atau mendownload Tentang Teknik Pembesaran Ikan Nila, yang di atas ini dengan file yang lebih lengkap silahkan di Klik   D I S I N I  atau   D I S I N I